My title page contents

Jumat, 26 Januari 2024

2023 Journey


August, 18th 2023.


2023 passed. 


A lot of memories archived.


It was so memorable year through my career journey.


I saw my colleague left one by one in the beginning of 2023 since the project has finished.


Every week, one by one sending a goodbye text and left the group. 


It was a horrible time I ever seen. 


Its a great company.


The work environment, the team, the leader. 


It was a blessed things can joined the globe. 


I still remember the day Im excited step my foot leaving my city to reach out new dreams. 


Came to new place with no connection, friends or family.


 Everyone greet me warmly and we slowly build the relationship between each other. 


It was a fun work environment with kindest peeps behind.


We arguing our lunch menu and write a list for breakfast. 


Everyday we laugh like no pressure.


We talk dumb things and cackling for unrealistic situations. 


We travel to many places and connecting to each other. 


Celebrated many big day and blow the candles on mates birthday.


We captured many moments. 


I remember the day I left the city and tried to paved new hopes in new place. 


My heart stuck for long and I can’t stop myself to not crying on my way. 


I cried a lot and it was a miserable moment ever.


I cried a lot when the plane take off. 


I left the place.


Archived the memories.

Minggu, 31 Januari 2021

SUMMARY OF 2019


2019 was so colourful for me, so here’s the resume..

 

Januari

     Saya memulai tahun dengan perasaan damai. Katanya, untuk memulai sesuatu yang baru, kita harus terlebih dahulu memaafkan keadaan. Hati yang lapang akan membawa energi yang positif..

    Saya menyapa orang-orang terdekat, mengucapkan terima kasih karena sudah bersama melewati peliknya hidup. Mengucapkan terima kasih atas hal baik bahkan buruk yang saya yakini membuat saya belajar untuk bertahan. 2018 sangat menguras emosi. Keputusasaan, kekecewaan, pengkhianatan, kesabaran, bahkan bercampur menjadi luka. Namun dibalik semua pilu, saya bertahan sekuat tenaga.

      Di bulan Januari saya pergi berlibur bersama teman. Menghabiskan waktu bersama teman di tengah tuntutan ruamnya kehidupan. Namun, bulan januari berakhir pilu. Saya memberanikan diri bertanya ‘arti saya’ kepada seseorang yang begitu saya kagumi sepenuh hati. Seseorang yang mengulurkan tangannya saat saya jatuh tersungkur. Seseorang yang akhirnya menjawab sendu. ‘we just friend’. Saya pikir semua telah berakhir. Kami berhenti melangkah tepat di malam itu. Namun, ia kembali melambai, tersenyum lebar penuh kehangatan..

 

Februari

     Bulan ini berjalan pelan tanpa hal yang begitu terkenang oleh memori ingatan. Seperti biasa, februari syahdu berjalan pelan dan melambai mesra..

 

Maret

     Salah seorang dosen saya mengirimkan pesan yang sampai hari ini sangat saya syukuri. Ia menawarkan untuk mengikuti kompetisi debat. Saya bergejolak namun berhenti sesaat. Rasa takut akan mengecewakan meredupkan semangat saya. Apa saya bias? Apa saya pantas?

    Seorang teman menepuk pelan sambil berkata, ‘it’s your time, take it slowly’

     Saat itu juga saya membulatkan tekad untuk berdiri tegak. Membusungkan dada, menjemput takdir. Saya melewati Maret dengan penuh harapan. Sayup-sayup angin menemani saya melewati hari-hari yang berat. Saya terus menyebut nama seseorang. Bercerita dengan sendu seolah ia duduk di samping, mendengarkan dengan serius. Lalu ia tersenyum sambil berkata, ‘u have do ur best. Gapapa, nanti kita coba lagi.’

     Angin laut menepuk pelan menyadarkan saya. Tidak. Sekarang saya sedang duduk sendirian memandangi air laut yang tenang..

    Maret begitu memeluk saya erat. Menyeret saya dalam gemerlap kemenangan yang tak pernah saya bayangkan. Air mata haru mengantarkan berkah yang tak ternilai. Saya berdiri percaya diri dengan senyum yang paling lebar. Ah, masih terlintas di ingatan saya, langit senja yang begitu hangat. Saya tersenyum memandang sesaat, ‘I did it, kan?

 

April

   April begitu baik kepada saya. Walaupun saya menangis mengutuk diri sepanjang jalan. Namun April tetap merangkul erat. Menggandeng mesra mengantarkan saya ke podium harapan yang tak pernah terucap.

     Bulan April begitu spesial. Lika-liku begitu menjerat namun satu hal yang pasti; saya berhasil melewatinya bukan? Stress, merasa rendah, lelah, tidak percaya diri, khawatir yang berlebih mencengkram saya. Namun saya berhasil melepaskan diri. Berlari cepat menjauh dari ketidaknyamanan.

 

Mei

  Tidak terlalu terekam apa yang terjadi di bulan Mei. Namun, awal Mei saya diberikan kesempatan bertemu orang-orang hebat yang tak terlupakan.

 

Juni

   Ramadhan melambai penuh haru pada bulan Juni. Saya hanya melewati seminggu libur setelah lebaran. Padahal rentetan libur panjang mengantri di kalender. Namun saya harus bergegas cepat, kembali ke rutinitas. Menghadapi hari-hari berat..

 

Juli

    Juli 2019 takkan pernah saya lupakan. Begitu lelah saya memperjuangkannya sampai akhirnya berhasil merengkuh mesra. Walaupun bercucur pilu. Juli mengantar saya terbang lebih dekat dengan langit. Melihat gumpalan awan yang bersatu padu menghias indah. Saya tersenyum memandang keluar, ‘see? Nw bisa kan?

    Rasanya sangat membahagiakan bukan? Akhirnya menjadi kenyataan..

 

Agustus

   Bulan Agustus penuh harap. Setelah melewati masa-masa berat, kini berjejer antrian ‘masalah-masalah’ lainnya. Bukankah ini alasan mengapa kita menjadi kuat? Bertahan tegap melawan badai?

    Saya kembali ke realita. Menapak cepat menggapai cita-cita. Tugas akhir kuliah sudah menanti sambil mengucapkan salam. Saya mencuri start dengan memulai lebih cepat. Saya teringat saat saya harus berusaha lebih keras dalam judul skripsi. Sepanjang jalan saya bersedih diri, merasa lelah mencoba. Namun tak lama pesan darimu tiba-tiba muncul. Kalimat-kalimat yang saya harapkan. Terima kasih telah membuat saya percaya diri..

 

September

   Setelah drama judul skripsi yang panjang, akhirnya saya menang tanpa harus bersimpuh penyesalan. Ya. Saya menang.

  September menjadi bulan dimana saya harus bertemu dan tinggal bersama orang baru. Berbagai kejutan menghampiri tanpa henti. Hal-hal aneh terjadi silih berganti. Hal-hal yang tak pernah saya bayangkan. Namun realita lebih memusingkan lagi. Di bulan September saya harus kembali bergelut memperjuangkan cita-cita. Berusaha berlari agar cepat sampai. Saya mengurus surat magang agar memenuhi paragraf di CV saya. Walaupun begitu penuh drama, akhirnya saya kembali menang. Sesuai target, saya bisa magang begitu selesai KKN.

 

Oktober

   Oktober datang begitu cepat. Seperti ia sudah paham bahwa saya menantikannya. Saya berhasil magang di sebuah institusi pemerintah. Bertemu orang-orang baru yang menyambut saya dengan hangat. Menyapa dam tersenyum ramah saat berpas-pasan di koridor kantor. Saya begitu bersyukur.

  Saat itu realita kehidupan orang dewasa menampar saya. Seolah menyadarkan bahwa beginilah keadaan sesungguhnya. Awalnya saya terkejut dan frustasi. Namun, apa lagi yang bisa saya lakukan? Kita tidak bisa berlari menghindar bukan? Menghindar hanya menimbulkan rentetan masalah baru. Satu-satunya jalan adalah menghadapinya dengan sekuat tenaga.

   Ah, saya teringat ketika kamu kembali menyapa. Mendengar seksama cerita panjang keseharian saya. Menasehati saya ini itu seolah kamu ibu saya. Rasanya sangat bahagia. Sumpah. Itu menjadi percakapan terpanjang kita.

 

November

    Saya tidak terlalu ingat apa yang terjadi di bulan ini. Saya melanjutkan kontrak magang atas permintaan atasan saya, melewati hari-hari dengan penuh semangat. Sambilan magang saya mengerjakan skripsi dengan disemangati oleh atasan-atasan saya. Saya belajar banyak dari mereka. Canda gurau mengisi hari-hari sampai dimana hari perpisahan menyambut dan menyeret saya pergi..

 

Desember

   Saya mencintai Desember dengan segala kehangatannya. Desember menemani saya menggarap skripsi dengan penuh semangat. Tak ada yang begitu menghambat. Semua berjalan sesuai yang saya harapkan. Namun tidak tentang kamu.

    Saya sedih ketika kamu tidak tahu hari besar saya. Saya teringat ketika saya menangis tersedu-sedu melewati jalan Medan-Banda Aceh di tengah hujan yang lumayan deras. Saat itu saya dalam perjalanan kembali ke kota dimana saya berkuliah. Saya terisak-isak sambil marah-marah mempertanyakan berbagai macam hal kepada tuhan.

          ‘why it’s really hard for us to end up together?’

     Saya terus bertanya ditengah rintikan hujan. Setalah kejadian itu, saya mencoba menyibukkan diri dengan tugas akhir. Mencoba melarikan diri sekuat tenaga. Menghapus perlahan memori indah tentang kamu.

     Sampai suatu hari, saya terkejut saat bangun tidur di pagi hari. Tak percaya dengan apa yang ditampilkan di layar ponsel saya. Kamu mengirimkan pesan yang sampai hari ini tersimpan jelas di memori ingatan saya. Mata saya berkaca-kaca membaca pesan itu. Isi pesan yang sangat menggambarkan diri kamu.

   Saat saya menulis ini, percayalah saya tersenyum bahagia mengingat isi pesan tersebut. Akhirnya kamu berhasil meraih apa yang kamu impikan. Kini kamu berada di tempat dimana harusnya kamu berpijak. Isi pesan tersebut kini menjadi kenyataan. Walaupun hari ini kini kita tidak lagi bertegur sapa, tapi saya sangat ingin mengucapkan selamat. Selamat atas kerja keras dan semangat pantang menyerahmu. Kini kamu sudah berada di tempat yang kamu impikan. Saya sangat bahagia akan hal itu..

 

2019 begitu memberikan kejutan penuh warna. Jalan panjang yang saya lalui tak sepenuhnya berkabut. Pelangi yang melengkung indah masih menunggu di garis akhir. Namun untuk sampai kesana, saya harus melewati hujan badai kan? Sesekali langit biru muncul setelah hujan deras dengan guntur. Cahaya matahari memberikan kehangatan seolah ia paham sepanjang berjalan tadi saya mengigil meminta pertolongan. Ayo, jangan sampai jatuh tersungkur. Kita masih harus berjalan melalui tahun-tahun berikutnya..

 

 

Ps. Meskipun tulisan ini saya up di tahun 2021, namun sebagian tulisan telah saya rangkum sedikit demi sedikit dari awal tahun 2020. Ketika hari ini saya menemukan tulisan ini kembali di buku catatan saya, terlintas di fikiran saya untuk melanjutkannya kembali dan mengaupload di blog ini.


Kamis, 16 Januari 2020

THOUGHTS ON..



Menjadi perempuan itu berat. Saat ingin berdiri satu lengkah lebih depan, mereka menatapmu sinis sambil menggerutu tajam, membuatmu mundur tiga langkah ke belakang. Tatapanmu yang berbinar mulai redup tertelan harapan. Hancur melebur bersama mimpi-mimpi yang kau rangkai setiap malam. Katanya, dunia tercipta untuk semua kalangan, nyatanya, dunia hanya digembala untuk gerombolan domba jantan..

Menjadi perempuan itu berat. Saat ingin mengepakkan sayap lebih lebar, mereka tertawa terbahak-bahak. Menepuk pundak sambil berdumal pelan, “sayang, sayapmu tak akan terbang menembus awan. Engkau hanya hembusan asap yang memudar terbelai angin. Engkau tak akan pernah menjadi badai. Baiknya tetap tenang menunggu sampai alam memberimu kabar. Bahwasanya, sang kumbang sedang dalam perjalanan pulang”.

Menjadi perempuan itu berat. Saat ingin berpergian bebas dengan semangat membara, jalanan terasa gelap gulita. Mata-mata sang pendosa melirik senang, ada mangsa, batinnya. Mereka beraksi seolah memberi kesan bahwa dunia begitu kejam hingga engkau harusnya tak menapak santai. Lalu kaupun berlari kencang dengan hati berdegup tak karuan, berteriak meminta pertolongan. Berharap tuhan menarikmu dalam pelukannya, menyelamatkanmu dari binatang jalan.

Menjadi perempuan itu berat. Saat kau tak pandai memindai benang, mereka mengutukmu geram. Katanya, kau harus pandai dalam segala hal. Katanya, kau harus menguasai berbagai keahlian. Namun, nyatanya, mereka lupa. Mereka menutup jalan untuk engkau mencari ilmu pengetahuan. Mengikatmu erat dalam kenyataan, bahwa tak sepatutnya engkau terbang. Kaupun terdiam dalam sangkar, menangis lirih mempertanyakan nasib yang malang.

Benar, menjadi perempuan itu berat. Terlalu berat sampai punggung tak lagi dapat menumpu tegak.

Jumat, 06 Desember 2019

Internship Experience



Haloo, i’ve decided to write out my internship lyfe here since it was my choice that never ever regret. Here you are..

    Jadi keputusan untuk internship ini saya putuskan saat saya sedang mengantri di depan teller. Saat itu untuk membunuh waktu, antrian yang begitu panjang, saya mencoba scrolling timeline twitter sampai saya menemukan sebuah thread dari seorang dosen wali yang sukses membuat saya memutar haluan..

    Thread itu menuai pro dan kontra dari berbagai pihak. Membuat para fresh graduate yang tidak memiliki exposure/experience apa-apa menyernyit ketakutan. Begitu pula saya. Selama menjalani masa kuliah, saya paham bahwa keikutsertaan dalam organisasian itu perlu. Maka saya pun sudah menyimpan porsi untuk hal tersebut. Saya aktif dalam organisasi himpunan jurusan dari semester 3 sampai semester 5. Di awal semester 6 saya juga ditawari ikutserta dalam BEM universitas, namun saya menolaknya karena saat itu saya sedang memfokuskan diri dalam perlombaan debat yang sampai hari ini saya sangat bersyukur karena memberanikan diri terjun dalam kegiatan tersebut. Singkat cerita, saya memutuskan untuk habis-habisan dalam menyelesaikan tugas akhir saya. 

    Sejauh ini saya tidak mengalami hambatan yang begitu berarti dalam hal tugas akhir. Saya mendapatkan keberuntungan dalam hal ini. Judul yang saya pilih adalah judul tugas mata kuliah metopen (metodelogi penelitian) di semester 6 lalu. Saat mencari judul skripsi, saya melakukan cross check terhadap judul-judul skripsi yang sudah diambil oleh kakak tingkat dan Holla! Setelah memeriksa ratusan judul yang sudah di print out, saya tidak menemukan judul yang sama seperti judul tugas metopen saya. Saya pun mengambil langkah cepat untuk mengajukan judul tersebut dan Yeep! Judul saya langsung di acc dan saya sangat bersyukur untuk itu..

    Saya melupakan liburan semester genap untuk mengejar pengajuan skripsi lebih cepat sebelum saya terjun dalam kegiatan KKN. Tuhan sangat memberkati saya. 3 minggu sebelum masa KKN dimulai, saya sudah lepas dari satu tahap dalam jeratan semester akhir : proses pengajuan judul.

   Saya pun dapat menjalani KKN tanpa memikirkan judul skripsi lagi. Namun mendekati masa KKN, thread dosen wali itupun menghampiri saya. Dengan rasa putus asa membayangkan CV saya akan kosong tanpa pengalaman apapun, saya pulang melewati jalanan yang panjang sambil merenung langkah apa yang harus saya ambil untuk menyelesaikan masalah ini. Saya bertanya ke beberapa kenalan masalah internship ini. Nyatanya memang di jurusan saya, internship bukanlah sebuah keharusan. Ini hanya opsi yang dapat diambil mahasiswa jika mereka menginginkannya. Saya sampai ke keputusan bahwa saya harus melakukan internship selepas KKN. Semester 7 ini mata kuliah hanya tinggal 2, hari-hari saya akan sangat membosankan dan dipastikan saya akan melewati hari dengan bermalas-malasan dan membuang-buang waktu yang berharga. Oleh karena itu, saya memantapkan diri untuk mengikuti program internship. Pilihan saya jatuh pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Lhokseumawe.

     Karena lokasi KKN yang tidak begitu jauh, sekitar 40-50 menit waktu tempuh dari lokasi kampus, jadi kami pun diberikan maksimal 2 kali dalam seminggu untuk izin masuk kampus dikarenakan masih ada mata kuliah yang tersisa. Saya memanfaatkan waktu tersebut untuk observasi lokasi magang dan mengurus segala keperluan administrasi seperti surat rekom yang sangat susah didapatkan.

    Membutuhkan waktu yang lama dan menguras emosi dalam mengurus surat tersebut. Saya sampai di titik sangat frustasi dan putus asa. Tersedu-sedu sepanjang jalan sambil mengutuk diri dalam-dalam. Merenung di depan lautan lepas di tengah hari yang panas sambil menguatkan diri bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja dan saya pasti bisa melewati semuanya. Saya pun tersenyum dan bersemangat kembali. Segala urusan selesai di minggu-minggu terakhir masa KKN saya. Tuhan benar-benar memberkati saya, kan? Surat resmi dari kantor pun sudah saya terima. 5 hari setelah KKN berakhir, saya pun masuk kantor. Saya mengambil waktu 1 bulan untuk kegiatan ini. Namun di akhir masa, para karyawan di seksi saya bekerja meminta perpanjangan waktu. Jadilah masa internship saya selama 2 bulan.

    Saya menyemangati diri bahwa ini adalah keputusan yang baik. menghindari pikiran-pikiran negatif yang membuat saya down. Menjalani hari-hari yang menyuguhkan berbagai kejutan. Di awal internship, saya sangat terkejut. Melihat realita dunia kerja yang menuntun kita, manusia, seperti robot. Melakukan pekerjaan yang berulang-ulang setiap hari dengan jam kerja yang padat. Saya menghela napas panjang. Ironis memang. Terlintas di benak saya, jadi tujuan dari hidup ini sebenarnya apa? Apa yang dikejar? Kenapa kita melakukan semua ini yang pada akhirnya akan kita tinggalkan karena harus berpindah alam secara terpaksa? Lalu semua ini untuk apa?

     Kejadian ini sangat membuat saya stres akan realita. Menghadapi kenyataan bahwa inilah yang akan saya lakukan sebentar lagi. Tekanan lain datang saat mendapati bahwa banyak teman-teman di kantor yang seusia saya namun sudah berpenghasilan tetap. Menyandang gelar karyawan kantor dengan tangan menari-nari di atas keyboard komputer melakukan tugasnya. Dimana saya, teman sebayanya, memandang iri sambil membatin, betapa beruntungnya kamu. Namun tak lama menghela nafas panjang. Tidak. Saya juga kelak akan begitu. Saya hanya perlu berusaha lebih keras. Mendaki lebih tinggi. Mereka juga sudah melewati masa sulit itu dahulu. Perbedaannya hanya pada waktu. Jika saya lebih giat, saya juga akan berada pada titik tersebut. Ini adalah salah satu hal yang saya suka dari diri saya. sef-motivate yang tinggi dan pantang menyerah walau sedetik sebelumnya saya putus asa dan mengeluh lelah.

    Saya tidak pernah menyesal memilih jalan ini. Kegiatan ini makin menguatkan pondasi saya untuk berdiri lebih kuat. Seperti alarm yang menggema untuk tidak lagi membuang-buang setiap detik jarum jam yang berdetak. Melakukan yang terbaik dan terus mencoba hal-hal baru. Di sini saya bertemu dengan orang-orang hebat dengan latar belakang dan perjuangan yang berbeda-beda. Semua orang memiliki cerita masa sulit. Kamupun begitu. Mereka berbondong-bondong mengedukasi saya, memberikan titik terang kemana saya harus melangkah setelah menyelesaikan studi saya. mereka menerima saya layaknya seperti karyawan lainnya. Memperlakukan saya dengan baik. Menghormati pekerjaan saya, memaklumi kesalahan yang saya buat karena kecerobohan saya.

    Saya sangat senang memulai pagi dengan senyum lepas. Bangun di pagi hari dan memulai aktivitas seperti layaknya yang orang dewasa lakukan. Pulang petang sambil me-review hari yang panjang di sepanjang perajalanan pulang. Saya sangat bersyukur atas setiap kenikmatan yang masih bisa saya terima. Terkadang, hidup benar-benar berjalan dengan berat, namun bagaimana kita bertahan adalah poin pentingnya. Bagaimana kita bersyukur. Bagaimana kita menyelesaikan masalah. Bahkan bagaimana kita merelakan sesuatu yang sangat kita harapkan namun tak bisa kita dapatkan. Begitulah bagaimana kita ditempa menjadi orang yang kuat.
     
    Saat bertanya sebenarnya tujuan dari hidup ini apa. mengapa kita melakukan hal yang repetitive bahkan hal yang tidak kita sukai demi bertahan hidup dan kelak akan hilang tanpa mengucapkan salam perpisahan, Mengapa kita harus diciptakan sampai harus mengalami hal pahit, ketidakpastian dan ketidakadilan sampai akhirnya harus menderita. Saya tiba di satu kesimpulan :
Sebenarnya tujuan dari hidup, tujuan Tuhan menciptakan kita berbeda-beda, tinggi dan rendah, terang dan gelap, berkecukupan dan kekurangan, lahir di daratan yang berjauhan, memakai jenis kain yang berbeda dan bahkan berjalan ke arah Tuhan yang berbeda, semua itu diciptakan agar kita dapat menghargai perbedaan. Tujuan dan esensi dari hidup ini adalah bagaimana kita yang tinggi dapat merangkul yang rendah. Memberikan kehidupan bagi yang kekurangan bahkan mendekatkan diri dengan mereka yang jauh dan berbeda pandangan. Bagaimana kita dapat berguna bagi orang lain adalah yang terpenting dari hidup. Saya pikir, itulah mengapa tuhan menciptakan perbedaan di setiap makhluk ciptaannya..

Selasa, 26 Maret 2019

kebucinanku~


Saat aku menulis ini, "Celengan Rindu" dari Fiersa Besari terasa begitu nyaring. Menyeretku ke dalam pelukan memori tentangmu...


Aku terus mencoba memikirkan berbagai hal yang bisa ku katakan kepadamu saat itu. Namun semua yang kulakukan hanya duduk terdiam dan memandangi dari belakang. Merasa bahagia karena orang yang kukagumi sekarang berada hanya dalam hitungan cm dariku. Aku bahkan mengulurkan tanganku, mencoba menghitung jarak antara kau dan aku. 

Dan menyadari bahwasanya kini kita hanya sejarak tanganku saja. Lalu aku tersenyum.

Kamu terus mengalihkan perhatianmu ke lautan lepas. Memandangi cakrawala yang hampir tenggelam. Sementara aku terus melempar senyum kearahmu, wujud bersyukurku. Memerkan pada air laut yang sedang tenang, aku sedang bersama dengan orang yang kukagumi, lho

Saat aku menulis ini, aku menyadari bahwa kita ditakdirkan untuk mengulangi hal yang sama. Melihat lautan yang tenang, lagi.

Namun satu hal yang tidak terulang.

Kita terus berdiam. Terpaku dan tak berdaya. Tenggelam dalam asumsi fiktif masing-masing. Jika mengingat saat itu, betapa aku kesal dan menyesal karena menyia-nyiakan waktu yang berharga itu. Waktu yang mungkin takkan pernah kudapat lagi. Waktu yang sekarang hanya menjadi kenangan.

Jika suatu saat kamu membaca ini, waktu itu aku bahagia sekali lho. sungguh. 

Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai mengagumimu. Bahkan satu kata darimu saja kutunggui sepanjang hari. Tidak pernah mengeluh betapa membosankannya kamu. Tidak pernah menggerutu betapa kamu tidak memperdulikan keberadaanku. Karena, seperti yang pernah ku katakan; Yang ku inginkan hanya terus berada disisimu. Menjadi temanmu saja sudah lebih dari cukup. 

Karena memilikimu bukanlah kapasitasku. Puncak kau berdiri terlalu tinggi, sehingga membuat kakiku tak sanggup mendaki.

Waktu terus berlalu. Kamu tetap seperti dirimu biasanya. Namun tidak untukku. 

Aku bisa memikirkanmu puluhan kali dalam sehari. Membawamu kedalam setiap aktivitasku. Menyebutkan namamu dalam diary keluh kesahku. Sungguh suatu hal yang tak pernah ku lalukan sebelumnya.

Namun sayangnya, kebiasaan itu pada akhirnya membuatku tercekik. Membuatku frustasi. 

Pada akhirnya yang kulakukan hanya terus berdoa kepada Tuhan agar kau dijauhkan dariku dan aku bisa terbebas dari kebiasaan tersebut.

Dan Tuhan mengabulkannya, kan.

Kini untuk mengatakan 'hai' saja begitu berat untukku. Terlebih lagi kamu. 

Namun harapanku; kamu tetap mengingatku sebagai seorang teman yang pernah marah-marah padamu. Seorang teman yang sangat frontal sehingga kamu mengajariku untuk lebih mempertimbangkan banyak hal saat ingin berbicara. Dapat mengontrol diri dan tidak menjadi egois. Itu nasehatmu..

Lucunya, aku begitu patuh terhadap nasehatmu. kuingat disetiap celah waktuku. Bahkan saat mengingatnya, senyum lebar terukir di wajahku. Sebegitu berpengaruhnya kamu..

Ahiya, jika ditanya apa yang membuatku begitu mengagumi, aku dapat menjawabnya dengan cepat.

He speaks manly and the way he thinks about something is fuckin positively. 

the way you speak is my favorite thing, lho. Itulah mungkin alasan mengapa aku tetap tidak masalah dengan betapa cueknya kamu. Namun saat kamu tidak menghiraukanku, rasanya sangat menyedihkan.

Jika suatu hari kamu membaca ini, aku berharap kamu masih mengenangku sebagai seorang wanita yang begitu kagum padamu, mendengarkanmu dengan baik, bahkan akan berdemo dalam chatroom mu jika sesuatu terjadi. 

Tau gak sih, karena terbiasa menceritakan apapun padamu, aku terus reflect menulis berbagai macam keluhan ke chatroom mu. Sampai akhirnya aku tersadar, Ahiya, kita sekarang adalah stranger. 

Hal yang paling kubenci adalah menjadi jauh dengan orang-orang yang awalnya sedekat nadi. Namun begitulah alam semesta bekerja kan? 

Kita tidak bisa terus berdiam di tempat yang sama, kan?
Sampai akhirnya kita memutuskan beranjak mencari tempat berteduh yang lebih baik.

Kita tidak bisa menggenggam hal yang sama, kan?
Kehilangan adalah hal yang tidak diinginkan namun saat kenyataan menggeroti, genggaman yang erat sekalipun pada akhirnya terlepas juga.

Begitupun kamu..   

Jumat, 25 Mei 2018

Let's think the opposite





Ahh, ini post-an terbaruku setelah udah lama gak ngepost. Padahal setiap malam aku selalu dapat ide untuk nulis, tapi penyakit mager nya itu loh, haha. Jadi i posted this, i want you all never give up on something do you hold. On something do you want, on your dream, and be thankful of it. 


Di dunia ini ada begitu banyak orang yang jatuh, tapi mereka bangkit lagi. Ada begitu banyak air mata, tapi mereka tetap tersenyum seolah dunia begitu indah untuk ditangisi. Itu semua tidak sebanding dengan apa yang kita rasakan. Setiap kita jatuh, kita terluka, bisakah mencoba bangkit dan menyembuhkan rasa sakit dengan kembali berusaha?. Ketika hal buruk datang, cobalah mencari hal baik dalam celah-celah keterpurukan.

Saya pernah mengalami penipuan, tapi hal itu membuat saya sadar atas hal-hal buruk yang pernah saya lakukan. Banyak hal yang saya dapati ketika saya mencoba merenung kesalahan apa yang sudah saya perbuat, namun hal itu tidak sebanding dengan apa yang saya terima. Rasanya tuhan begitu baik saat menegur saya. saya pun mencoba menata kembali hidup dan mencoba menjadi orang yang berguna. 

Dari situ kita belajar bahwa setiap hal buruk datang untuk menandakan akan datangnya hal baik suatu hari nanti. Itu semua kembali kepada kita, bagaimana kita menanggapinya. Bagaimana cara kita menyikapinya.


Ketika anda tidak mendapatkan apa yang anda inginkan padahal anda sudah berusaha sangat keras untuk mendapatkannya, janganlah menyerah. Cobalah bersyukur. mungkin usaha anda belum begitu keras dimata tuhan, mungkin anda akan mendapatkannya di lain waktu, mungkin anda akan diberi hal yang lebih dijalan ini. begitu banyak kemungkinan yang akan anda terima. Percayalah. Tidak ada hal baik yang datang tanpa ada pengorbanan. 

Saat saya lulus SMA, saya begitu percaya bahwa saya akan lulus pada universitas yang saya mau dan jurusan yang saya inginkan. Namun tuhan tidak mengindahkan jalan itu. Saya gagal. Saya mencoba kembali namun tetap gagal. Sebagai gantinya, tuhan memberi pilihan lain. Jalan alternatif. Saya tetap diterima di universitas negri lain tapi tetap dengan jurusan impian saya. 


Mungkin itu bukanlah keinginan saya, mungkin itu bukanlah universitas yang saya inginkan, levelnya jauh dibawah. Namun saya mencoba menerima karena ini adalah pilihan saya. biarpun tidak berhasil menjadi mahasiswa di universitas impian, tapi saya tetap bisa mengemban program studi yang saya inginkan.



Ketika saya merasa sangat sedih, karena teman-teman saya berada di atas saya, saya mencoba melihat sedikit kebaikan dari apa yang saya dapatkan. Tahun itu ada lebih dari 1 juta siswa yang mengikuti Ujian Nasional di Indonesia, dan lebih dari 600 ribu pendaftar universitas namun hanya 100 ribu orang yang mendapatkan kursi tersebut. Saya adalah 1 dari sekian banyak orang yang beruntung yang bisa melanjutkan pendidikan. Masih banyak diluar sana anak-anak yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Begitu banyak konflik dinegara-negara mereka yang mengakibatkan putusnya sekolah. Bahkan mereka putus asa akan mimpi yang tak tergapai.


Betapa beruntungnya kita. Saat kita menggunakan smartphone yang kameranya dapat menyamarkan jerawat, tapi diluar sana ada begitu banyak orang-orang yang tak pernah berfoto sekalipun. Ketika kita asyik menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak berguna, tapi diluar sana ada begitu banyak mata-mata yang menatap hampa, seakan dunia ini begitu gelap dimata mereka.


Ketika kita hidup damai, tidur dengan nyenyak, dengan perut yang kenyang dan hati yang riang, tapi ada begitu banyak anak yang setiap malam berdoa semoga hari esok perang akan usai. Hari esok keajaiban akan datang, hari esok keadilan akan terungkap, hari esok adalah hari dimana mereka bisa hidup tanpa rasa takut, tanpa gelisah. 

Tidakkah kita bisa bersyukur atas setiap hal yang terjadi di kehidupan kita?

Makanan yang kita makan, air yang kita pakai untuk mandi, baju yang kita kenakan, bahkan atas oksigen yang masih bisa kita hirup dengan gratis. Atas jantung yang masih berdetak. Biarpun itu sangat sulit, tapi tak bisakah kita biasakan untuk bersyukur atas hidup gratis yang kita jalani setiap sebelum tidur?

Jumat, 06 Oktober 2017

didn't know Park Bo Gum? You Should!

Annyeonghaseyo! At this time, i wanna write something that i really adore . that’s a thing that i cant stop falling for and close this fuckin eyes. that’s Park Bo Gum.




Me in 5 years ago is a girl who didnt understand all about K-POP. I dont look at them because i made a bad recognized about them. I dont understand the language and everything around them. But me at this time is a South Korean lovers. I love drama so much. I could spend a day with watching a drama. I cant sleep at night just because i imagine what happen in the next episode. That’s me now.

I start watch drama since Senior High School. When i was broke up and it really hurts me so deep, so i tried myself to forget the fuckin boy with watched a film. When i dont have any stock of film again, i found a title in my folder and that’s ‘The Heirs’. For the first time i tried to watch the drama, i found my self that can not understand the story of the drama. But one day i tried to watched it again and ya! I cant stop to watched it!. Now im so excited if there is a new drama coming up.

But till it happened, i love some actors who played the characters in good way. I like Lee Jong Suk and Yoo Seung Ho, and it made me watched all of their dramas and films. But till i watched ‘Moonlight Drawn by Clouds’ my life changed!. I was crazy for the crown prince, Lee Young (suddenly i wanna watch it again). When i watched the drama, i look at the crown prince so deep. Like i knew the actor but who?. Until i remember Lee Hyun Woo. Seriously, i though he’s Lee Hyun Woo until i googling and found the answer, He’s Park Bo Gum.

I like his acting and his smile. He had a strong charm to make everybody in love with his character. But it isnt happened only with me, all of my friends were fallin love with him when they tried to watch moonlight too. And my attention for him was peaked when i realized he was played in ‘Replay 1988’. To be honest, i watched this drama without identifying the players. And ‘Replay 1988’ is one of my favourite drama and never enough to watch.

Park Bo Gum make me fall more and more. I dont know but he drugged and trapped me in his personality. I never read something bad commenting on his behaviour. Everbody loves him. Everybody revealed he’s innocent, purest, polite, cares much, kindness, flawless, reliable, ah every part of him made me falling into a deep dream, want to marry him. Hahaha. Ah, i need park bo gum in real life.

Someone who has the personality like him. I didnt find any flaw from him until now. So many good commented in every his issues. i cant handle my finger to clicking on my keypad, try to find new issue, new news about him. If you dont know park bo gum, you should!. He’s 24th now but i believe if he could be the next korean star that make korean wave shining in the world. He’s debuted in 2011, in a movie with title ‘Blind’. And also starred ‘Wonderful Mama’. He successed played a physco lawyer in ‘Hello Monster’ and good Cello player in ‘Caintable Tomorrow’. He gained his popularity with his role in ‘Replay 1988’ played Choi Taek, a genius go player. As a korean actor he got a recognation so fast. He only need 5 years to fly high in the sky.

Everyone loves park bo gum. They called him “national boyfriend”. They really want to dating someone like him. Ugh, me too. Who doesnt want to spend their whole life with this charm person??!. I really wait for his next drama but until now he rejected all of them and focus being an ads model. Whatever he did, he always give his best. Im so excited for his next project, seriously. But i need to wait until it happen. I wish there are many big project will be held next year. Bo gumma-a i wait for you yaa!!!

His friendship with Song Joong Ki is real. I remember that joongki was crying when Bogum won his award for best actor in Seoul Music Award. They both have some project together too. This bromance really awesome. Bo gum has another friendship with BTS’ V. They looks so cute and adorable. They spent their rest time together. Get some vacation, walking around or attending a concert. Bo gum support V so much. He went to V’s concert too. Now, Bogum’s popularity is same as another hallyu star like Song Joong Ki, Lee Jong Suk, Ji Chang Wook, Kim Wobin, Kim Soo Hyun, and others. I think he deserve it. Because beside his kindness and angel soul, there is no doubt in his acting.